[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Bukan hanya menahan haus dan lapar, mengelola emosi menjadi hal yang wajib dilakukan selama menunaikan ibadah puasa.

Emosi adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Emosi yang secara signifikan dapat berubah sewaktu-waktu penting untuk dikelola agar puasa tak sia-sia.

Untuk sebagian individu yang memiliki tingkat emosi cukup tinggi tentunya harus mampu menahan diri untuk mengelola amarah selama berpuasa. Namun adakah konsep atau strategi untuk mengelola emosi?

Melansir laman Psychology Today, Selasa (7/6/2016) James Gross seorang psikolog dari University of California, Berkeley, dalam studi tentang emosi yang dilakukannya di tahun 2001, mengusulkan sebuah model mengelola emosi dengan cara bertahap berikut ini:

1. Sadar situasi

Memilih untuk menghindari situasi yang dapat memicu amarah menjadi salah satu langkah tepat untuk mengelola emosi.

Misalnya, untuk menghindari macet jalanan yang dapat memancing emosi, maka baiknya berangkat sekitar 10 menit lebih awal.

2. Alihkan emosi

Di tengah diskusi atau perdebatan dalam pekerjaan yang membuat situasi memanas, jangan terburu-buru menaikkan emosi Anda. Belajar dan membiasakan diri untuk bersikap tenang akan membantu diri mengelola emosi diri sendiri.

Bayangkan sesuatu hal yang membuat diri Anda tenang atau senang ketika pikiran sudah stabil, Anda bisa membantu situasi panas menjadi lebih damai.

3. Ubah pola pikir

Emosi biasanya terjadi ketika pola pikir selalu memikirkan hal yang negatif dan menyingkirkan kebahagiaan. Kecemasan, kegagalan, sekali pun rasa pesimis dapat memicu tingkat emosi Anda.

Untuk menghindarinya coba untuk buat beberapa pilihan sebelum bertindak. Antisipasi akan membuahkan hasil yang baik bagi diri Anda.

4. Ubah respons

Saat emosi datang menghampiri pikiran, langkah terakhir untuk mengendalikannya ialah dengan mengubah respon.

Ambil napas dalam-dalam sambil menutup mata sejenak untuk menenangkan diri. Cara ini ampuh untuk mengumpulkan daya batin yang positif.

[ad_2]

Source link

Leave a Reply