[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Orangtua sudah mulai bisa mengajarkan anak tentang berbagi sejak anak usia dua tahun. Respon positif orangtua ketika anak mulai menunjukkan sifat berbagi memperkokoh anak memiliki kemauan tersebut hingga besar.

Memang anak usia dua tahun belum paham betul makna berbagi namun ia sudah bisa menunjukkan geliat tersebut lewat hal sederhana. Misalnya saat ia makan biskuit, sudah masuk mulut dan digigit lalu ia menyodorkan kepada orangtua ‘ibu mau juga?’.

“Itu indikator ia bisa berbagi di usia dini. Kalau orangtua marah-marah menanggapi itu misalnya bilang ‘apaan sih adek, sudah masuk mulut kok dikasih ke ibu’. Anak menangkap apa yang dilakukan itu salah,” tutur psikolog dari Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani.

Lebih baik orangtua merespon positif dengan mengatakan ‘oh, terima kasih sayang’. Hal ini memperkuatnya untuk makin berbagi seperti dituturkan psikolog yang akrab disapa Nina dalam peluncuran kampanye ‘Mattel Senangnya Berbagi’ di Jakarta, ditulis Sabtu (4/6/2016).

Saat usia anak 4-5 tahun, anak sudah mulai mengerti konsep berbagi. Jika ia mulai berbagi mainan dengan teman-teman lainnya beri pujian padanya bahwa yang dilakukannya baik.

“Katakan padanya, dengan berbagi membuat orang lain bahagia, dan kamu juga bahagia,” tutur Nina.

Tak jarang juga ketika anak sudah mulai berbagi dengan memberikan makanan atau meminjamkan mainan, sang teman tidak mau. Rasa sedih mungkin terbersit pada anak.

“Orangtua tidak perlu membesarkan kegagalan anak dalam hal ini. Hibur dia bahwa ia sudah melakukan hal yang baik dengan berbagi pada orang lain,” kata Nina lagi.

Jangan juga paksa anak untuk berbagi. Bila ia tak mau membagikan mainan atau makanan ke temannya biarkan. Konsep berbagi yang tepat ketika memang muncul keinginan berbagi dari si anak.

Jika ia masih pelit, orangtua secara perlahan melibatkan anak dalam berbagi. “Misalnya saat kumpul bersama anak-anak lain minta ia Bantu bagikan kue ke teman-teman,” contoh Nina.

[ad_2]

Source link

Leave a Reply