[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Doa adalah bagian integral dari semua agama di dunia. Dalam Islam, doa sangat identik dengan istilah shalat (salat). Secara harfiah shalat berarti ‘memanggil’. Itu artinya, objek yang melakukan salat, memanggil dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Salat dilakukan dalam Bahasa Arab dan lima kali sehari seiring dengan pergerakan planet, matahari dan siklus alami alam semesta.

Salat subuh diibaratkan menebar benih. Salat magrib dan isya adalah menumbuhkan akar-akarnya dalam kegelapan dan sembunyi-sembunyi. Salat subuh adalah munculnya kuncup pertama. Salat zuhur adalah waktu untuk menumbuhkan ranting-ranting dan salat asar adalah buah dari pohon pengabdian.

Dalam Alquran sendiri dinyatakan :
Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sesbelum terbit matahari dan sebelum terbenam. Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari, dan setiap selesai sembahyang. (Q.S [50]:39-40).

Hazrat Syah Maqshud Shadiq Angha dalam bukunya “Hakikat Doa dalam Islam” menyebutkan, setiap gerakan salat memiliki arti yang luar biasa dan memberi pengaruh khusus baik pada tubuh fisik maupun metafisik.

Keseimbangan alam yang harmonis dari energi-energi subtil ini tersimpan selama salat berlangsung. Saat sikap tubuh berada dekat dengan jantung niat orang yang salat, maka transformasi dari keadaan dasar menjadi keadaan ilahiah menjadi mungkin.

Maka, tasawuf mengajarkan bahwa konsentrasi dalam hati, kata-kata dan sikap tubuh saat sembahyang menggambarkan Kebenaran Tunggal pada saat yang bersamaan : la ilaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah).

Angha menyebutkan, mendirikan salat berarti menyelaraskan aspek-aspek pikiran (niat/keinginan), kata-kata (pelafalan), dan tindakan (gerakan tubuh) sehingga meningkatkan kesehatan dan penyembuhan dalam sebuah medan energi. “Penggabungan ini memungkinkan para mushalli memanjat tangga menuju Tuhan.”

[ad_2]

Source link

Leave a Reply