[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Seiring bertambahnya usia, fisik seseorang tentu mengalami perubahan tak terkecuali vagina. Mungkin tak banyak wanita yang menyadari perubahan ini. Seperti diungkap oleh Alyssa Dweck, MD, profesor dan asisten klinis kebidanan dan ginekologi di Ichan School of Medicine di Gunung Sinai di New York dan Ginekolog di Westchester Country, dikutip dari Prevention, Selasa (14/6/2016)

Usia 30-an
Keluhan yang sering dialami pada wanita usia 30-an adalah kekeringan. Ini disebabkan oleh penggunaan pil KB yang menghambat ovulasi dan membatasi produksi pelumas sehingga mengakibatkan kekeringan di sekitar vagina.

Selain itu, pada usia ini wanita umumnya sudah mengalami proses kehamilan dan melahirkan yang memberi dampak besar pada vulva dan vagina. “Pada umumnya pembuluh darah membesar saat kehamilan dan kembali normal setelah melahirkan”, kata Dweck. Selain itu hormon kehamilan juga mengubah warna vulva menjadi lebih gelap. Labia minora, bibir vagina bagian dalam yang terletak di belakang labia mayora akan terlihat menggelap. Perubahan ini sangat normal, jadi tak perlu kawatir.

“Untungnya, vagina adalah tempat yang sangat pemaaf. Karena sifat elastisnya, sehingga kembali normal setelah melahirkan.” kata Dweck.

Usia 40 tahun
Bagi wanita yang gemar mencukur rambut kemaluan dengan wax, pada usia ini akan menemukan perubahan pigmen warna kulit vagina. Rambut kemaluan juga akan mulai menipis, sebagai akibat menurunnya hormon estrogen.

Penurunan estrogen adalah sinyal transisi premenopause yang kemungkinan akan dimulai pada dekade ini. Umumnya wanita mengalami menopause di usia 50 dan 52. Gejala awal adalah kekeringan pada vagina dan perubahan elastisitas vagina.

Usia 50 tahun
Berkurangnya estrogen menyebabkan rambut kemaluan lebih tipis, kurang elastis, vulva dan jaringan vagina kering, membuat seks terasa seperti menggunakan amplas dan menyebabkan iritasi.

Perubahan vagina lainnya tampak pada tampilan vulva menjadi keriput, oleh karena kolagen lemak yang kaya estrogen, sudah tak ada lagi.

Menopause menyebabkan hilangnya hormon estrogen. Hormon estrogen bekerja mengusir bakteri tertentu di vagina. Ketika hormon estrogen hilang, beberapa bakteri tertentu lebih mudah bersarang di vagina mengubah pH menjadi lebih asam, yang menjadikan vagina lebih rentan terhadap infeksi.

Usia 60-an
50 sampai 60 persen wanita di usia ini melaporkan masalah kekeringan vagina. Wanita menopause beresiko mengalami perubahan serius yang disebut prolapse, dimana jaringan ikat yang memegang rahim, leher rahim, dan perut telah mengendur. Beberapa kasus serius, memerlukan pembedahan untuk memperbaiki kerusakan.

[ad_2]

Source link

Leave a Reply