[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Banyak wanita yang mencukur rambut kemaluannya dengan alasan agar terlihat seksi di mata suaminya dan merangsang saat berhubungan. Padahal, hal tersebut hanya akan menyebabkan luka dan merupakan sumber penularan penyakit kelamin saat bersetubuh.

Selain karena alasan ingin mempercantik diri, ternyata pasangan pun ikut andil dalam pengambilan keputusan seorang wanita, menurut penelitian terbaru. Jika pasangannya meminta untuk mencukurnya maka si wanita pun mematuhinya. 

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa waxing–kegiatan mencukur atau memangkas rambut kemaluan dapat meningkatkan risiko cedera genitourinaria, yang menjadi laserasi yang paling umum, dengan beberapa yang mengakibatkan kunjungan gawat darurat.

Sebelum Anda mencukur bulu kemaluan, sebaiknya ketahui beberapa fakta berikut, seperti dilansir Dailymail, Sabtu (1/7/2016):

– Hampir 52 persen perempuan yang mencukur bulu kemaluan sudah menikah. Sebanyak 21 persen belum menikah dan 8,5 persen yang hidup dengan pasangan.

– Pisau cukur non-electric adalah pilihan bagi 61 persen wanita, sementara gunting digunakan oleh 17,5 persen diantaranya dan pisau cukur listrik digunakan oleh 12 persen sisanya. Hanya 0,7 persen dari mereka menggunakan metode laser rambut dan 0,1 persen menggunakan elektrolisis.

– Dilaporkan, mencukur rambut kemaluan membuat wanita merasa ‘higienis atau bersih’ (59 persen). Hal ini membuat wanita menjadikan cukur bulu kemaluan sebagai bagian dari rutinitas mereka (45,5 persen), membuat vaginanya terlihat lebih baik ‘(31,5 persen); atau membuat oral seks lebih mudah (19,6 persen).

– Hampir 93 persen perempuan dilaporkan melakukan perawatan sendiri, dan 62 persen mengatakan mereka telah mencukur habis semua rambut kemaluan setidaknya sekali.

 

***Ingin mendapatkan informasi terbaru tentang Ramadan, bisa dibaca di sini.

[ad_2]

Source link

Leave a Reply