[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta  

Di dunia medis, kebiri bedah dengan mengambil testikel biasa dilakukan untuk mengatasi kanker. Meski tidak disebut sebagai kebiri, metode bedahnya sama. Pengambilan testikel ini diharapkan akan mengurangi produksi hormon testosteron (hormon pria) dalam tubuh.

Kasus-kasus seperti kanker prostat, kanker testis, dan kanker payudara para pria yang sebagian besar dipengaruhi perkembangannya oleh testosteron bisa jadi butuh proses yang disebut orchiectomy atau emasculation.

Dalam prosesnya, pembedahan dilakukan dengan membuat sayatan di bagian tengah skrotum dan menariknya keluar sampai testikel benar-benar keluar. Setelah selaput penghubung antara testis dan kantong sperma atau Vas Deferens dipotong, testikel baru diambil dan Vas Derefens dikembalikan ke skrotum. Sayatan ditutup, kemudian dilanjut ke testikel satunya.

Lain lagi dengan proses kebiri kimiawi. Di bawah pengawasan dokter, obat antiandeogen seperti misalnya cyproterone disuntikkan selama beberapa kali dalam beberapa minggu. Androgen merupakan hormon-hormon seperti juga testosteron yang berfungsi sebagai menjaga agar karakteristik maskulin tetap ada.

Dengan menurunnya kadar testosteron, kebanyakan pria juga akan mengalami akan mengalami penurunan libido atau dorongan seksual dan pemikiran-pemikiran terkait seksualitas.

Pada para predator seks, obat seperti Depo-Provera yang mengandung hormon progestin disuntikkan. Mekanisme tidak sama dengan kebiri bedah yang menghilangkan testikel. Bila zat kimia itu sudah tak lagi ada, produksi testosteron dan sperma bakal berlanjut lagi.

Perppu Kebiri

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dengan sanksi tambahan kebiri kimia, baru saja diteken Presiden Jokowi, pada Rabu 25 Mei 2016. Perppu yang salah satu isinya menyebutkan tentang pidana kebiri ini diterapkan untuk mengatasi kegentingan yang terjadi akibat kekerasan seksual terhadap anak yang makin meningkat signifikan. 

 

 

 

[ad_2]

Source link

Leave a Reply