[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Seringkali kita mengira berbagi hanya membahagiakan orang lain. Nyatanya, kebahagiaan yang dirasakan orang tersebut menular pada si pemberi.

“Orang selalu mengira saat kita berbagi yang untung orang lain. Padahal ketika berbagi yang diuntungkan dalam hal emosional itu kita (si pemberi). Jadi ikut merasakan kebahagiaan,” tutur psikolog dari Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani.

Sejak anak usia dua tahun umumnya sudah memiliki konsep berbagi. Misalnya, pada saat ia makan biskuit lalu tiba-tiba ia berkata, “Ayah mau?”.

“Meskipun sudah ia masukkan ke dalam mulut namun hal ini tanda ia sudah ada konsep berbagi. Respons positif orangtua diperlukan untuk mengembangkan kemampuan ia untuk berbagi,” tutur Anna dalam kampanye “Mattel Senangnya Berbagi” di kawasan Kebayoran, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Pada kesempatan ini pula perusahaan mainan Mattel meluncurkan kampanye “Senangnya Berbagi” di bulan Ramadan. Setiap pembelian produk Mattel seperti Barbie, Hot Wheels, Fisher Price, Thomas&Friends, dan Mega Blok senilai minimal Rp100.000 di Hypermart sama dengan menyumbang donasi senilai Rp30.000 dalam bentuk mainan. Total Mattel akan memberikan donasi mainan senilai Rp 3 miliar berbentuk mainan pada anak-anak yang membutuhkan.

“Anak-anak pun bisa memberikan pesan kepada mereka yang menerima mainan tersebut dalam kotak yang sudah disediakan,” tutur Country Manager PT Mattel Trading Indonesia, Sivarueben Sivalingam.

[ad_2]

Source link

Leave a Reply