[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Selama bertahun-tahun, Julie Matthews memberi sentuhan pirang pada rambutnya. Kali itu gadis yang baru duduk di bangku kuliah ini ingin mencoba warna cokelat. Petugas salon pun membubuhkan pewarna semi permanen di layer teratas rambutnya. Dan semua berjalan normal.

“Aku tak pernah mengalami reaksi alergi pada peroksida, itu sebabnya petugas salon menganggap aku tak perlu dites,” cerita Julie.

Tapi kemudian kulit kepalanya terasa terbakar dan dia menanyakan hal itu pada petugas salon. Namun menurut si petugas salon, sedikit rasa terbakar yang dirasakan Julie adalah hal yang umum. Meski merasa kesakitan, Julie bertahan duduk selama 40 menit hingga petugas salon membilas rambutnya. Setelah ditata, rambut Julie terlihat baik-baik saja.

Betapa terkejutnya Julie saat keesokan paginya dia mendapati cairan bening berbau keluar dari kulit kepalanya. Julie pun segera mencuci rambut untuk menghilangkan hal itu. Tapi rupanya tindakan itu tak berhasil, kulit kepalanya masih mengeluarkan cairan dan sakit. Julie semakin terkejut mendapati kepalanya membengkak saat berkaca.

Ibu Julie lantas membawanya ke ruang gawat darurat. Di sana dia diberi EpiPen dan antihistamin. Penanganan standar karena dokter residen yang menanganinya menganggap itu hanya reaksi alergi ringan. Ternyata pengobatan itu tak berhasil, Julie mengalami sesak napas sesampainya di rumah. Kepalanya semakin membengkak dan sakit luar biasa.

Sekembalinya ke rumah sakit, Julie segera ditangani dokter dan dua perawat. Julie diketahui alergi pada pewarna paraphenylenediamine atau biasa disebut dengan PPD dan seringkali digunakan dalam henna hitam untuk tato, dikutip dari laman Goodhousekeeping, Senin (13/6/2016/).

“Diperlukan sekitar seminggu agar bengkaknya reda. Dan aku dirawat intensif di rumah sakit selama dua malam. mereka kemudian memberi resep dua pengobatan untuk dijalani dua minggu setelahnya,” celoteh Julie.

Sayangnya, proses penyembuhan kulit kepala Julie sedikit lebih lama. Dia harus menemui dermatolog setelah keluar dari rumah sakit. Meski kulit kepalanya mengelupas selama beberapa minggu, Julie merasa beruntung karena rambutnya tak ikut hilang. Sekarang Julie tak bisa mewarnai rambut. Dokter menyarankan dia menghindari semua pewarna rambut. 

[ad_2]

Source link

Leave a Reply