[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Tak hanya di perkotaan, sepertinya pola konsumsi mi instan kian meningkat di daerah. Terbukti, Survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2010 menunjukkan, 6 dari 100 balita di Indonesia mengalami kelebihan gizi yang terkait dengan pola konsumsi mi instan.

Data World Instant Noodles Association (WINA) mencatat, konsumsi mi instan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2013, konsumsi mie instan masyarakat Indonesia sudah mencapai 14,9 miliar bungkus, atau mengalami peningkatan sebesar 1 miliar bungkus bila dibandingkan dengan konsumsi pada 2009.

Secara rata-rata setiap orang Indonesia mengonsumsi sekitar 60-61 bungkus atau 1,5 dus mie instan pada tahun 2013. Tingginya angka konsumsi mie instan ini menempatkan Indonesia di posisi kedua sebagai negara dengan konsumsi mi instan terbesar di dunia setelah Cina yang mencapai 46,2 miliar bungkus.

Dokter pemerhati gaya hidup, Dr. Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt setuju bila saat ini sangat sulit mencari seseorang yang kurang gizi. Sebab dari kecil, anak-anak sudah diajarkan orangtuanya untuk makan mi instan dengan nasi. Hal ini membuat kenaikan kasus obesitas di Indonesia.

“Makanan kerap disalahgunakan. Kalau dulu, orang lapar baru makan. Sekarang makanan itu sumber happy, pelepas stres sehingga banyak orang mengalami gagal diet. Itu namanya lapar mata,” kata Grace saat ditemui beberapa waktu lalu.

Menurut Grace, salah satu makanan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat seperti mi instan memiliki kandungan kalori yang luar biasa tinggi. Dia menyetarakan satu bungkus mi instan dengan lima mangkuk nasi atau sama dengan 8 kalo dada ayam sebesar telapak tangan (Grill chicken).

“Idealnya, kebutuhan kalori wanita hanya 1.800-2.000 kalori per hari. Sedangkan mi instan mengandung sodium sekitar 1.080 mg atau sekitar 45 persen dari kebutuhan keseluruhan per hari. Itu belum ditambah telur, kornet dan sebagainya,” ujar Grace.

Grace menuturkan, agar hidup lebih sehat, dia menyarankan untuk mengonsumsi makanan sesuai dengan tumpeng gizi.

“Konsumsi karbohidrat itu sewajarnya mengikuti pola tumpeng gizi. Perbanyak sayur dan buah, protein nabati. Hindari konsumsi gula, garam, lemak berlebihan seperti yang terdapat pada mi instan,” pungkasnya.

[ad_2]

Source link

Leave a Reply