[ad_1]

Liputan6.com, New York- Bagi Anda yang gila kerja alias workaholic mungkin senang mendapat predikat tersebut dari rekan kerja lainnya. Tapi tahukah Anda orang yang gila kerja memiliki kecenderungan untuk memiliki gangguan kejiwaan, seperti diungkap studi terbaru.

Dalam penelitian dari University of Bergen, Norwegia disebutkan orang gila kerja ditandai dengan jam bekerja lebih dari seharusnya, menggunakan waktu berolahraga dan rekreasi untuk bekerja, dan sering mengalami sakit gara-gara bekerja. Pada orang-orang tersebut memiliki kriteria gangguan kejiwaan tertentu seperti Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Obsessive Compulsive Disorder (OCD), kecemasan, dan depresi.

Hal ini diketahui dari studi yang melibatkan 16.400 pekerja. Ternyata sekitar 7,8 persen diantaranya masuk dalam kualifikasi gila kerja. Hasilnya cukup mengejutkan.

Orang yang selalu kepikiran tugas kantor bukanlah 'workaholic'. Mereka orang-orang yang tidak menghargai hidup dan kesehatannya.

Menurut penulis studi, Schou Andreassen, orang ADHD cenderung sulit konsentrasi ketika ada banyak orang di sekitar mereka dan cenderung menunggu usai jam kerja untuk menyelesaikan pekerjaan merka. Sementara itu orang dengan orang OCD cenderung terobsesi dengan detil, ini mirip dengan workaholic.

Dari studi ini, peneliti merasa perlu memberikan batasan bekerja agar tidak benar-benar berkembang menajdi gangguan kejiwaan.

“Untuk mencegah gila kerja berkembang, ada beberapa hal perlu dilakukan untuk mencegah gila kerja ini. Terutama di masa modern seperti ini karena ada teknologi yang mengaburkan gairs antara rumah dan tempat kerja,” tutur penulis studi, Schou Andreassen seperti dikutip laman Huffington Post, Jumat (17/6/2016).

Peneliti mencatat, orang-orang yang masuk dalam kategori gila kerja cenderung berusia dewasa muda, lajang, perempuan, berpendidikan tinggi, status sosial ekonomi lebih tinggi dibandingkan kelompok umum. Lalu dalam pekerjaan mereka sebagian besar seorang manajer maupun wiraswasta.

[ad_2]

Source link

Leave a Reply