[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Pemain gim (game) Pokemon Go diharuskan mencari beragam Pokemon yang tersebar di banyak tempat di dunia nyata. Nanti “tangkapan” itu akan diadu setelah pemain berada di level lima.

Mengetahui cara bermain Pokemon Go yang terkesan “asyik sendiri”, gim ini sebaiknya tidak dimainkan saat sedang bersilaturahmi ke rumah sanak keluarga di hari raya Idulfitri.¬†Sehingga momen-momen sakral yang terjadi–mungkin–hanya satu tahun sekali tidak terlewatkan begitu saja.

“Pokemon Go ini dari sisi negatifnya terkesan individual banget. Ke mana-mana cari-cari Pokemon. Yang main asyik sendiri. Fokus sendiri. Bukannya fokus ke silaturahminya malah fokus ke permainannya,” kata Psikolog dari Tiga Generasi, Tiara Puspita, N., M.Psi., Psikolog saat dihubungi Health Liputan6.com pada Sabtu (9/7/2016)

Menurutnya, kalau memang sedang sendiri di rumah, bermain Pokemon Go sampai jungkir balik, ketawa sendiri, greget-greget nggak jelas, tentu tidak menjadi masalah.

Yang jadi masalah ketika gim Pokemon Go yang dilengkapi dengan teknologi augmented reality ini dimainkan oleh seorang anak saat diajak kedua orangtua bertamu ke kerabat atau saudara, atau juga berkunjung ke tempat wisata.

“Orangtuanya sibuk dengan keluarga, anak malah keluar cari pokemon. Atau ke tempat-tempat menarik jadinya tidak fokus, karena yang dicari pokemon. Hal-hal semacam itu yang membuat Pokemon Go jadi negatif,” kata Tiara.

 

[ad_2]

Source link

Leave a Reply