[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Selfie, kegiatan memfoto diri sendiri lalu diunggah ke media sosial, baru bisa disebut narsistik atau narsisme jika dilakukan lebih dari delapan kali dalam rentan waktu yang sempit.

Apabila banyak orang beranggapan selfie adalah kegiatan yang negatif, Psikolog Anak dan Keluarga, Sutji Sosrowardojo, justru memandang selfie sebagai kegiatan yang terlalu positif. Itu merupakan tanda bahwa orang tersebut bangga dengan dirinya sendiri dan tak merasa minder.

“Bagaimana juga seseorang harus menerima tubuh dan ketidaksempurnaannya. Tapi kalau berlebihan dapat mengarah ke narsistik,” kata Sutji ditulis Health Liputan6.com pada Sabtu (25/6/2016)

Sutji melanjutkan, selfie ini memang tak bisa dihindari lantaran kegunaan gawai yang tak sekadar sebagai alat komunikasi, tapi sudah bergeser menjadi alat fotografi.

“Kalau misalnya kita tahu batasan yang sehat dan tidak sehat, baik-baik saja,” kata Sutji menerangkan.

Sutji menyebut selfie sebagai kegiatan yang menandakan seseorang mencintai tubuhnya dan menginginkan orang lain untuk melihat keindahan tubuh dan betapa menariknya dia.

“Ini ada hubungannya juga antara keinginan dia untuk dilihat orang lain dari segi fisik yang sempurna, yang mungkin tidak seperti keadaan dia yang sebenarnya,” kata Sutji menekankan.

“Ya, pada akhirnya, selfie tidak bisa dibilang negatif, justru over positif, karena dia bangga sekali dan dia ingin orang lain tahu,” kata Sutji.

[ad_2]

Source link

Leave a Reply