[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta Lingkungan menjadi faktor terdekat untuk anak menjadi seorang perokok. Walaupun anak sadar dan tahu bahaya rokok, namun jika sudah adiktif tak satu orang pun yang bisa menghentikan selain dirinya sendiri.

Menurut dokter spesialis Paru dari RS Persahabatan, Feni Fitriani Taufik, biasanya anak mulai coba-coba merokok saat mereka memasuki usia remaja. Remaja adalah massa ketika anak dekat dengan rasa ingin tahu dan ingin mencoba. Hal ini membuat anak ingin mencoba merokok.

Ironisnya, kini tak sedikit anak di bawah usia 17 tahun yang merokok dan merasa kalau rokok itu keren.

“Bahaya perokok anak ya jelas berbahaya untuk kesehatannya. Zat karsinogen yang ada di dalam rokok menjadi pemicu utama tumbuhnya risiko kanker di dalam tubuh,” katanya saat dihubungi Health-Liputan6.com, ditulis Jumat (3/06/2016).

Anak yang masih mengalami pertumbuhan akan lebih rentan terhadap jenis penyakit, dan dampak atau tanda yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah ketika anak mulai mengalami masalah pernapasan.

Terlebih orang yang menjadi perokok sejak kecil, kata dia, kemungkinan ribuan penyakit akan berkumpul di dalam tubuh dan risiko kanker lebih tinggi.

Untuk menanggulanginya, Feni berharap, anak bisa dijauhkan dari rokok. Selain itu, orangtua perlu berkomunikasi dengan baik terkait rokok sedini mungkin.

“Jika tak ingin anaknya merokok, ya orangtua atau seluruh anggota keluarga di rumah harus menjauhi rokok. Memberikan edukasi tentang rokok kepada anak sama halnya seperti memberikan pendidikan seks kepada anak sedini mungkin. Bicarakan pada anak, rokok adalah perbuatan yang merugikan,” tutur Feni.

[ad_2]

Source link

Leave a Reply